Perjalanan Kantong Empedu
Pada bulan Februari 2015, saya sering merasakan mual, kembung dan pusing. Gejala tersebut menetap, namun saya anggap angin lalu. Awalnya saya kira ini hanya penyakit maag biasa yang bisa saya abaikan.
Suatu hari pada April 2015, saya merasakan kolik.. sakit perut yang teramat sangat pada perut kanan atas (di bawah payudara kanan). Tiduran salah, duduk salah, nungging salah, nangis juga salah. Saat itulah saya mulai melakukan pencarian apa sebenarnya penyakit saya. Hasil searching kesana kemari menunjukkan kemungkinan adanya masalah pada empedu saya.
Saya langsung melakukan USG di klinik kantor untuk membuktikan hal ini. Hasilnya, saya didiagnosa memiliki batu empedu sebesar 10mm. Rasanya shock.... dokter kantor meresepkan obat urdafalk yang harus dikonsumsi selama 3 bulan. Setelah 3 bulan akan dipantau perubahan besarnya batu empedu. Baru 2 bulan berlalu, saya merasakan sakit perut hebat sampai 9 jam... luar biasa hebatnya sampai saya harus dilarikan ke UGD RSCM. Dokter menyatakan bahwa saya harus dioperasi karena dinding empedu menebal dan sudah infeksi.
Ketakutan saya terhadap operasi, kemudian mengurungkan niat saya untuk melaksanakan anjuran dokter. Satu bulan kemudian (3 bulan sejak konsumsi obat dan cuka apel), secara ajaib batu empedu tsb hilang. Saya benar-benar bersyukur atas keajaiban ini. Namun, seminggu kemudian giliran ibu saya yang divonis memiliki batu pada kantong empedunya. Beliau memilih untuk melakukan pengobatan herbal.
Satu tahun kemudian saat saya mulai kuliah S2 di maksi UI, pada bulan juni 2016 lagi-lagi saya merasakan kolik dalam 4 hari berturut-turut masing-masing selama 4 jam. Jadilah muncul dilema dalam hati saya, apakah saya memang harus menjalani operasi pengangkatan empedu? Kolik ini terasa sangat mengganggu ketika dia muncul pada 3 jam saat ujian akhir semester. Saya minum pengurang rasa sakit dosis tinggi, akibatnya saya sangat mengantuk saat ujian.
Hal ini menjadi renungan bagi saya untuk mempertimbangkan opsi operasi atau herbal
Keuntungan jika operasi :
1. Tidak merasakan kolik lagi
2. Bebas dari obat urdafalk (yg hanya setingkat kerasnya dibawah steroid)
3. Bebas dari obat penghilang rasa sakit dosis tinggi
4. Menghilangkan kecemasan munculnya kolik yg tidak dapat kita prediksi waktunya
5. Kedepannya jika saya hamil, saya tidak cemas akan datangnya kolik. (Karena hormon selama hamil, meningkatkan ukuran batu empedu)
6. Ada faktor turunan yg memungkinkan saya terancam kambuh lagi walau batunya sudah hilang
7. Jika tidak dioperasi bisa mengakibatkan komplikasi yang berbahaya. Seorang kerabat saya, berusaha memecah batu empedunya dengan herbal. Batu berhasil pecah, namun menyangkut di saluran dan bocor. Akibatnya, beliau diopname 20hri dengan kesakitan karena tidak bisa langsung dioperasi. Itupun dilakukan dengan 3 kali pindah rumah sakit.
Kelemahan jika operasi :
1. Tetap harus diet dan membatasi makanan, karena cairan empedu langsung disemprotkan ke usus. Konon lebih rentan terhadap penyakit pencernaan.
2. Sakitnya saat pembedahan dan perawatan pasca pembedahan. Saat ini ada teknik laparaskopi (bedah minimal) dimana perawatan pasca operasi sangat cepat dan tidak sesakit bedah konvensional (laparatomi). Namun, beberapa teman gagal saat mencoba laparaskopi, sehingga tetap harus dibedah secara konvensional.
3. Biaya operasi mahal (biaya laparaskopi sekitar 25jt sd 30jt)
Atas perimbangan untung ruginya, saya memberanikan diri untuk melakukan operasi. Info dari teman-teman, operasi empedu ini dapat dibiayai oleh BPJS kesehatan. Mulailah saya mengurus operasi saya mulai dari minta rujukan ke puskesmas, RS tipe C, kemudian dirujuk lagi untuk dioperasi di RS tipe B.
Di RS tipe B saya melakukan USG whole Abdomen dan tes darah untuk mengetahui kadar bilirubin. Hasilnya ada batu empedu 19mm dengan kadar bilirubin normal. Melihat hasil ini, dokter bedah menyatakan siap melakukan bedah dengan laparatomi pada 1 juli 2016. Saya kemudian mengajukan permintaan, bisakah saya melakukan laparaskopi dengan dibiayai BPJS. Jawabannya tidak bisa di RS tsb, namun saya bisa dirujuk ke RSUD yg memiliki peralatan laparaskopi sendiri.
Karena saya loyal thd RS tersebut, saya memilih pembedahan dengan laparatomi (konvensional).
Dua minggu menjelang operasi, saya memantapkan pilihan saya ini. Saya browsing juga untuk mempersiapkan seberapa besar rasa sakit operasi abdomen dengan robekan 16 cm (21 jahitan). Saya bertanya pula ke teman-teman yang telah menjalani operasi ini. 100% menyatakan sakit sekali, lebih sakit daripada operasi sesar. Saya ketakutan, saya berdoa, shalat hajat pada keheningan malam..
"Ya Allah sehatkanlah hamba, hamba pasrah atas segalanya, atas hidup dan mati hamba. Walaupun di pikiran hamba, ini tidak mungkin, hamba memohon untuk tidak merasakan kesakitan yang hebat. Hamba memohon pemulihan yang cepat pasca operasi"
Setelahnya, saya merasakan ketenangan. Saya siap dioperasi dan datang dengan lapang. Operasi ini mengharuskan saya puasa 6 jam sblm operasi, tapi saya puasa 10 jam agar tidak mual muntah setelah operasi.
Tgl 1 juli 2016 jam 7 saya sudah di RS, pemeriksaan lab, tes alergi dan persiapan lainnya mulai dilakukan. Jam 9 saya masuk ruang operasi.
Saya minta ijin buang air kecil karena muncul ketegangan saat masuk ruang operasi. Saya diminta melepas aksesoris, ganti baju operasi dan tiduran di meja operasi. Dokter anastesi pun memperkenalkan dirinya, beliau sangat lucu dan mampu menghilangkan ketegangan saya. Pemantau detak jantung, tensi mulai dipasang. Dokter anastesi kemudian menyuntikkan obat bius ke selang infus saya. Saya tetap mengobrol, namun kemudian saya tertidur.
Selama tidur, saya tidak bermimpi apapun, rasanya seperti tidur siang saja. Saya bangun dengan pandangan samar-samar. Suster terlihat bertangan empat, berbadan empat... namun, lama kelamaan pandangan saya menjadi jelas dan mulai sadar sepenuhnya.
Saya kemudian dipindahkan ke ruang perawatan kelas 1 dan bertemu dengan mama dan suami saya. Saya memperhatikan perubahan tubuh saya, selang NGT terpasang di hidung. Selang ini dipasang dri hidung ke lambung, untuk mengeluarkan cairan lambung saya. Ada rasa mengganjal di tenggorokan, tapi tidak sakit. Saya jg melihat balutan kasa di perut saya horisontal agak miring. Tidak seperti bayangan saya, rasa sakitnya tidak sehebat cerita orang atau bayangan saya. Saya bisa tertawa dan minta diambilkan alat make up karena teman-teman akan datang. Ibu saya protes, kenapa kamu dandan pdhl baru setengah jam selesai dioperasi.
Ada kekuatan dibalik make up. Ada sugesti yang luar biasa, karena setelah berdandan saya berkaca dan mendapati bahwa wajah saya normal dan tidak lemas. Bibir saya telah dibalut lipstik dan tidak pucat. Saya merasa gembira dan siap menjalani treatment lain. Usus saya belum bekerja 20 jam setelah operasi, jadi saya belum boleh makan minum. Saya tidak khawatir karena infus masih terpasang. Namun selang di tenggorokan mulai mengganggu dan sakit ketika menelan ludah.
6 jam setelah operasi saya mulai mencoba miring kanan dan kiri. Kemudian jam 4 subuh saya mulai duduk, walaupun masih pusing. Saya mencoba lagi dan jam 6 saya sudah duduk stabil tidak pusing lagi. Dokter bedah kemudian melakukan kontrol dan melihay progres saya, dokter menyatakan saya boleh pulang hari ini.... wow... jujur saya kaget, karena hasil tanya jawab saya dengan teman-teman yg melakukan operasi konvensional mereka baru boleh pulang setelah 8 hari. Sementara saya baru 1 hari....
Saya belum mengiyakan karena saya tidak yakin bahwa saya bisa berjalan di hari pertama. Dokter kemudian menyuruh perawat mencabut selang hidung ke lambung NFL dan kateter. Saya kemudian mencoba buang air ke toilet dengan berjalan. Alhamdulillah, luar biasa rasanya saya bisa berjalan dengan rasa sakit yg masih wajar. Jalan bungkuk tapi stabil. Saya berdiri di jendela sambil berjemur. Saya ingat doa yang saya panjatkan H-1 sebelum operasi. Terima kasih ya Allah telah mengabulkan doa hamba... sungguh jika kita berdoa dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengabulkan doa kita... Subhanallah

Kak mau tanya pengalaman setelah operasinya?
BalasHapusIstri terkena batu empedu, sering kambuh2 an
Gmn mba sesudah pasca operasi sy jg kena batu empedu 4 cm dokter menyrankn operasi tp sy msih pikir pikir dulu
BalasHapusGmn mba ada keluhan ngga setelah operasi batu empedu
BalasHapusSaya juga punya batu empedu ukuran 1,9 cm...q takut di operasi setelah operasi badan tiap orang berbeda beda
BalasHapus